ISL: Dari 2014 ke 2015 [1]

Review ISL 2015
Kompetisi yang melelahkan ISL musim menyisakan berbagai kenangan yang terlalu manis untuk dilupakan.

  • Pertama kalinya ISL dihelat dengan format dua wilayah plus skema 8 besar.
  • Perjalanan menuju ISL 2014 sendiri sudah berlangsung sangat "panas". Dua kompetisi yang digabungkan yaitu ISL 2013 dan IPL 2013 mengalami pergolakan yang bertensi tinggi dan kontroversi terkait penentuan siapa yang layak berlaga di ISL 2014. Sebenarnya wacana penggabungan kompetisi IPL (saat itu masih bertajuk LPI 2011) dengan ISL 2011 sudah digulirkan sejak 2011 namun penggelumbungan jumlah peserta serta ketidaktransaparan sehingga membuat sebagian klub memboikot dan melanjutkan ISL versi mereka sendiri. Nah ketika kompetisi ISL 2013 mampu melahirkan Persipura diikuti 14 klub lainnya yang menghuni peringkat 1-15 serta LPI yang secara berantakan menghasilkan kompetisi penuh play-off (dan WO) dimana klub yang lolos pada akhirnya adalah Semen Padang, Persiba Bantul, Persijap Jepara, dan PSM Makassar. Di penghujung playoff, dua klub yang meraih pucuk klasmen, yaitu Pro Duta Lubuk Pakam dan Persepar Palangkaraya dieliminasi karena tidak lolos verifikasi. Sebagai catatan final LPI antara Pro Duta dengan Semen Padang sendiri tidak pernah terwujud karena jadwal yang terus mulur.
  • Tradisi tim non-Persipura yang berhasil juara di musim setelah tim Persipura juara.
  • Final Liga Indonesia/ISL yang dihelat di luar Senayan/Gelora Bung Karno dimana Gelora Sriwijaya Jakabaring menjadi stadion ketika yang menggelarnya setelah Stadion Klabat, Kota Manado (LI V 1999) dan Stadion Si Jalak Harupat (LI XII 2007/2008). Menariknya klub lokal penghuni ketiga stadion tersebut, Sriwijaya FC, Persma Manado, Persikab Bandung (Persib saat ini masih memakai Stadion Siliwangi) sedang terpuruk di kompetisi domestik.
  • Sebenarnya pemilihan venue final agak berat sebelah bagi Persib, mengapa? Kita tengok dari Persipura yang boleh jadi masih trauma dengan insiden  final Copa Indonesia 2009 serta sejak tahun 2007 menjalin rivalitas dengan Sriwijaya FC, penghuni stadion ini. Bagaimana dengan Persib? Hubungan dengan Sriwijaya FC bisa dibilang datar-datar saja, bahkan agak romantis mengingat beberap akali mereka "bertukar pemain". Selain itu sosok M. Ridwan, Supardi, Ahmad Jufriyanto, Firman Utina, Abdurrahman, dan Tantan merupakan (mantan) kesayangan publik Jakabaring karena pernah berkostum songket khas Sriwijaya FC, bandingkan dengan Persipura yang hanya punya Lim Jun Sik. Jangna-jangan faktor akrab dengan stadion ini pula yang menjadikan M. Ridwan sukses menceploskan gol di malam itu, Supardi dan Ahmad Jufriyanto sukses menjalan tugas segai algojo penalti, dan akhirnya Firman (bersama Atep) mengangkat trofi?
  • Keberhasilan Persib Bandung jaura ISL 2014 tentu mengingatkan pada keberhasilan Persib tahun 1994/1995 dimana ada persamaan diantara keduanya, yaitu juara di kompetisi gabungan, yaitu Perserikatan-Galatama sedangkan ISL 2014 merupakan merger dari ISL dengan IPL.
  • Menyaksikan komposisi 8 besar dimana Semen Padang sebagai pemegang tiket dari IPL dikeroyok 7 tim lain yang berasal dari ISL musim sebelumnya (plus Divisi Utama ISL), yaitu Pelita Bandung Raya, Persib, Mitra Kukar, Persebaya (tiket dari DU ISL), Persipura, Arema Cronus, dan Persela Lamongan. Artinya Semen Padang gagal mengikuti jejak Persib Bandung sebagai wakil Perserikatan satu-satunya dimana mampu mengangkangi 7 tim Galatama di babak 8 besar.
  • Masih seputar komposisi tim 8 besar yang sukses mempertemukan 8 tim dari 4 pulau, yaitu Sumatera (Semen Padang), Papua (Persipura), Kalimantan (Mitra Kukar) serta Jawa (klub lainnya). Kejadian yang sukses menyaingi babak 8 besar Ligina VI yang mampu meraup 4 pulau, yaitu Sumatera (PSMS Medan), Kalimantan (PKT Bontang), Sulawesi (PSM Makassar), dan Jawa (Persija, Persijatim, Pelita Solo, dan Persikota).
  • Djanur sebagai pelatih Persib menjadi insan sepak bola pertama "mengawinkan" gelar juara sebagai pelatih dengna gelar juara sebagai pemain
  • Derby Provinsi cukup marak di ISL kali ini, tercatat  Pelita Bandung Raya dengan Persib di Jawa Barat; Mitra Kutai Kartanegara, Persiba Balikpapan versus Putra Samarinda di Kalimantan Timur; Persipura Jayapura versus Perseru Serui di Papua; serta tentunya pergulatan Jawa Timur yang terbagi menjadi wilayah Barat antara Arema Cronus, Gresik United, dan Persik Kediri lalu wilayah Timur antara Persebaya Surabaya, Persela Lamongan, Persepam MU.
  • Rivalitas Persija dengan Persib ternyata masih berani dihadapi oleh kepolisian dibandingkan dengan Persebaya versus Arema, bahkan sejujurnya permasalahan bukan menyangkut empat tim itu melainkan suporternya. Maka jangna heran Persija dan Persib masih satu grup di wilayah Barat tapi Persebaya dipisahwilayahkan.
  • Sosok yang patut disorot di dalam kompetisi ini salah satunya adalah Bambang Pamungkas, legenda Persija yang membela Pelita Bandung Raya di ISL 2014 ini. 3 dari 9 golnya dilesakkan ke gawan Persija dimana pada perolehan akhir Persija sukses dilompati Pelita Bandung Raya di wilayah Barat. Belum cukup di situ, Bambang Pamungkas juga turut andil sebagai pencetak gol bunuh diri yang menjadi milik Persib, rival Persija, di babak 8 besar.


No Response to "ISL: Dari 2014 ke 2015 [1]"