Review: Doraemon, Stand by me

Film satu ini sudah digembar-gemborkan sejak awal tahun 2014 ini. Bahkan jujur saja sukses list-to-watch saya, tentunya selain Rurouni Kenshin. Alasannya sederhana, ini versi series-nya sudah terlalu legendaris, bahkansedari jaman SD hingga sekarang kerja ya masih saja gigih si Nobita. Jelas penasaran apa yang terjadi dan membuat spesial di movie ini. Apalagi dari previe-nya terlihat bahwa ini menjadi ajang perpisahan Doraemon dengan Nobita. Ya, tema perpisahan menjadi prediksi saya karena sudah beredar banyak "bocoran" tentang ending dari series Doraemon dimana dia mengalami error sehingga memory-nya harus di-reset dan membuat dia amnesia atas kenangan yang selama ini terjadi.



Tapi ternyata tema persahabatan ini harus kalah bersaing durasinya dengan tema "cinta". HUfff, saya sendiri bingung kenapa malah lebih dominan kegalauan Nobita terhadap Shizuka? Mungkin topik itu dijadikan pemantik yang menyebabkan Doraemon menjadi totalitas untuk membantu Nobita, tapi tetep saja kurang bangetlah. Kalau boleh jujur juga, penggambaran karakter ibu dan ayahnya Nobita plus pak guru juga urang memuaskan di film ini. Sosok ibu digambarkan sebagai sensitif untuk membentak, ayah yang pasif serta guru yang terlalu gemar mengancam. Nggak bangetlah menurut saya.

Maka, hanya fragmen yang paling saya nikmati tentunya yang fokus pada persahabatan Doraemon dengan Nobita. Selain itu merupakan ekspektasi awal saya, adegan yang berlangsung pada topik itu lebih natural alias alami. Secara umum, film ini patut direkomendasikan bukan untuk usia U-17 karena porsi cinta yang agak berlebihan. :)

No Response to "Review: Doraemon, Stand by me"